Wewacan

ReviewReviewReviewReviewDipanggil Untuk MencintaMay 15, '08 2:52 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Anthony De Mello
Ingatlah bagaimana perasaan kita saat kita dipuji, diakui, diterima dan disanjung. Bandingkan dengan perasaan yang muncul saat menyaksikan terbenamnya matahari dan indahnya alam raya, atau ketika kita membaca buku yang bagus atau menonton film yang mengesankan. Resapilah perasaan ini dan bandingkan dengan perasaan yang pertama tadi. Cobalah pahami bahwa perasaan pertama tadi merupakan perasaan duniawi yang berasal dari pengagungan diri. Perasaan kedua merupakan perasaan jiwa yang berasal dari pemenuhan diri.

Ada perbandingan lain. Ingatlah perasaan kita ketika sukses, meraih posisi puncak, menjadi juara atau unggul dalam perdebatan. Bandingkan perasaan itu dengan perasaan ketika kita sungguh – sungguh menikmati dan menghayati pekerjaan yang sedang kita lakukan, yang membuat kita asyik menekuninya. Sekali lagi, perhatikan perbedaan sifat antara perasaan duniawi dan perasaan jiwa.

Perbandingan lainnya lagi. Ingatlah yang kita rasakan saat memegang kekuasaan : menjadi bos, orang – orang menaruh hormat dan mematuhi perintah kita. Bandingkan dengan perasaan yang tumbuh dari keakraban dan persahabatan yakni saat kita sungguh – sungguh menikmati kegembiraan dan tawa dengan teman – teman dalam kelompok.

Berikutnya, cobalah memahami sifat dasar perasaan duniawi. Perasaan ini tidak alami, melainkan dibuat oleh budaya dan masyarakat dengan maksud agar kita produktif. Perasaan ini tidak menghasilkan kepenuhan ( fulfillment ) dan kebahagiaan seperti yang muncul saat kita mengkontemplasikan alam, menikmati persahabatan atau menekuni pekerjaan. Perasaan duniawi ini sekedar menghasilkan percik – percik kesenangan sesaat yang ujung – ujungnya adalah kehampaan.

Sekarang amatilah diri kita selama sehari atau seminggu. Periksalah berapa banyak tindakan dan aktifitas kita yang tidak terkontaminasi oleh keinginan untuk memperoleh getar – getar kesenangan sesaat itu, yang hanya berujung kehampaan. Berapa banyak yang tidak tercampur aduk oleh keinginan untuk memperoleh perhatian, pengakuan, kemasyhuran, popularitas, kesuksesan dan kekuasaan?

Amati pula orang – orang disekitar kita. Adakah yang tidak menjadi “ korban” perasaan duniawi ini? Adakah satu orang saja yang secara sadar atau tidak, tidak dikendalikan oleh perasaan ini, tidak haus akan perasaan ini dan tidak menghabiskan setiap detik dalam hidupnya untuk mengejar perasaan ini? Kita akan memahami bagaimana orang – orang mencoba mendapatkan dunia dan dalam proses itu, sekaligus kehilangan jiwa mereka. Mereka hidup dalam kekosongan. Ya, mereka hidup tanpa jiwa.

( Nukilan hal. 11 - 12 )


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help